CATATAN CINTA #23 : Apa? Pacaran Islami?
APA? PACARAN ISLAMI?
Gedung tiga lantai ditengah kota itu menaungi aktivitas siang saya, Jalan yang khas ditumbuhi berjejer pohon cemara menandai kawasan yang dikenal elit dikota ini. Kawasan pendidikan begitu kental di daerah ini ditandai menjamurnya lembaga pendidikan baru setahun terakhir.
Beberapa gelintir anak mulai berdatangan memenuhi ruangan-ruangan kecil digedung ini. Siang itu panas matahari tak begitu terik, tetapi sinarnya semakin lama terasa begitu menyilaukan karena beberapa pohon baru saja ditebang dan masih tersisa bekas-bekas potongan kayu yang teronggok dipojok halaman gedung ini.
Semakin sore, suasana semakin ramai. Saya masih duduk diruangan depan gedung seluas 4x4 m, lengkap dengan peralatan canggih abad ke-21. Saya masih sibuk dengan mengonsep SOP (Standard Operating Procedure) untuk bahan interview pendidik baru di sebuah lembaga yang mengamanahkan saya untuk mewawancarai beberapa waktu yang lalu.
Waktu interview pun tiba. berkas-berkas yang dibutuhkan juga sudah saya pelajari dengan seksama. Lalu, saya kagum karena kemampuan calon pelamar pekerjaan itu tak diragukan lagi. Hampir semua pertanyaan dibabat habis dengan lidah yang lancar dan kesan cerdas kuat melekat pada diri calon pelamar.
Karena calon pendidik, maka salah satu poin penting dalam SOP interview adalah mengenai akhlak. Tanpa saya banyak bicara, calon pelamar menceritakan perihal bagaimana seharusnya sebagai seorang pendidik memiliki akhlak yang baik. Dan salah satu indikatornya akhlak menurutnya adalah tindakan dan kebiasaan sehari-hari. Dengan tegas ia begitu menyayangkan norma kesopanan sekarang yang terkadang melanggar norma kesopanan dan agama. Dari mulai anak-anak hingga remaja. Tak sedikit yang mulai meniru budaya barat, padahal kita adalah orang timur yang memiliki peradaban yang lebih sopan dan berbudi pekerti.
Masih dengan semangat 45 calon pelamar itu menjelaskan kepada saya mengenai bahaya pergaulan remaja saat ini yang sering berakibat kehamilan tak diinginkan. Ia berkata bahwa penyebabnya adalah pacarannya tidak "islami" ( Lho?!)...
Sampai disana tiba-tiba penjelasannya langsung saya hentikan, ia pun juga seperti tersambar petir di siang bolong. Sambil tertawa kecil ia mengoreksi pernyataannya. " Maaf Pak, eh, dalam islam nggak ada pacaran islami ya, maaf saya salah," ralat calon pelamar itu.
Dan saya pun melanjutkan dengan pertanyaan, "Anda sendiri bagaimana?"
"Hehe.... saya juga masih melakukannya, Pak," katanya polos
Gubrakss... kata saya dalam hati.
Bro... sist.... belajar dari pengalaman interview yang saya lakukan ini, saya menyadari bahwa banyak diantara kita yang memahami tentang segala konsep idealisme dan keyakinan yang ada. Namun, sering kita justru melanggar sendiri idealisme atau keyakinan yang kita yakini kebenarannya. Kita memilih-milih aturan agama, yang enak.... dipakai, yang nggak cocok.... ditinggalkan. Ah, ini nggak gue banget! batinnya.
Seharusnya sebagai seorang yang beriman, kita berusaha untuk mengamalkan apa saja yang agama ajarkan kepada kita. Karena pada prinsipnya manusia hidup diatur dengan aturan yang sudah Allah SWT tetapkan.
Ibarat beli alat elektronik baru, pasti ada buku petunjuknya. Kalau seenaknya, nggak mau taat buku petunjuk penggunaan, ya tentunya alat elektronik kita cepat rusak, cepat jebol.
Manusia pun kalau tidak mau taat aturan Allah SWT, yah cepet rusaklah kehidupannya.... ah, nggak asyik.
So, Pelajari lagi Al-Qur'an dan sunnah. Insya Allah hidup berkah!
Artikel Selanjutnya : Rahasia lelaki
Artikel Selanjutnya : Rahasia lelaki

Komentar
Posting Komentar