CATATAN CINTA #23 : Berbohong Dengan Calon Suami


BERBOHONG DENGAN CALON SUAMI


Tiga hal yang Allah SWT tetapkan dalam kehidupan manusia, yaitu rezeki, kematian, dan jodoh. Seseorang yang enggan bekerja keras dengan alasan rezeki sudah diatur Allah, sesungguhnya ia tidak memahami makna takdir yang sesungguhnya. Karena Allah SWT hanya akan mengirim rezeki sesuai kesungguhan hamba-Nya dalam mencari penghidupan.

Begitu juga dengan jodoh, tak semudah nyanyian coboy junior, karena Allah SWT tidak mengirimkan bidadari jatuh dari surga untuk menjadi jodoh kita, namun ikhtiar menjadi salah satu wasilah dipermudahnya jodoh kita. Pada umumnya pendapat banyak orang, pria diciptakan untuk “mengejar” wanita, sebaliknya wanita diciptakan untuk menanti sang pangeran menjemputnya. Namun, untuk mendapat jodoh apa rumusnya harus selalu begitu? Tentu saja tidak, ibunda Khadijah ra adalah ummul mukminin yang membantu kita berpikir out of the box, bahwa pada dasarnya tak harus selalu pria yang meminang.

Dalam proses meminang dan dipinang. Tentu ada syariat yang mengaturnya. Tidak sembarangan dan tidak seenaknya. Karena pada dasarnya, menikah akan melalui sebuah perjanjian (ikrar) yang amat kukuh (mitsaqan ghaliza) dimana perjanjian itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Kebohongan kecil yang dilakukan pada saat proses meminang dan dipinang bisa menjadi pemicu masalah di kemudian hari. Walaupun urusan sepele, tapi bisa menyulut “kebakaran” besar yang akan meruntuhkan bangunan keluarga sakinah. Tak perlu takut kehilangan jodoh ketika berkata jujur, karena jutur itu akan menyelamatkan, menenteramkan, dan melapangkan hati.

Ketika calon suami datang untuk meminang calon istri, alangkah indahnya jika proses ta’aruf itu dihiasi dengan keterbukaan tanpa meninggalkan koridor syariat tentunya. Walaupun begitu, kesempuranaan hanyalah milik Allah SWT.

Kata D’Masiv, tak ada manusia yang terlahir sempurna. Ada kelebihan ada kekurangan. Ketika sudah memilih satu orang untuk dijadikan istri atau suami,  maka sejatinya, ia harus siap dengan berbagai macam kelebihan kekurangan pasangan. Jangan kemudian berlindung dengan alasan “ah, waktu ta’aruf, tidak begitu, kamu telah berbohong.” Perkataan itu akan menyakitkan siapa pun yang mendengarnya.

Bersikaplah dewasa, bijak, dan meneladani bagaimana Rasulullah SAW memperlakukan istrinya. Karena sebaik-baiknya laki-laki adalah yang berlaku baik dengan pasangannya, dan Rasulullah SAW adalah orang yang paling baik akhlaknya kepada istrinya.

Real Love sangatlah mungkin untuk anda dan pasangan jika anda berdua memiliki keinginan untuk mewujudkannya. Real Love tidak bisa terjadi dengan sendirinya tanpa adanya usaha dari kedua pasangan.

Artikel Selanjutnya : Shaleh inside, shaleh outside

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CATATAN CINTA #23 : Konflik yang Menimbulkan Cerai

CATATAN CINTA #23 : Shaleh Inside, Shaleh Outside