CATATAN CINTA #23 : Konflik yang Menimbulkan Cerai
KONFLIK YANG MENIMBULKAN CERAI
Dalam sebuah seminar "Pemuda dan Cinta", saya pernah disandingkan dengan seorang ulama lulusan S3 Universitas Madinah. Ulama yang namanya hampir sejajar dengan para ustadz terkenal di negara kita ini, ia begitu dalam menyampaikan pesan kepada para pemuda untuk berhati-hati dengan cinta yang sedang bergelora dalam hatinya.
Jika menilik catatan guru saya, ada dua istilah yang sering dipakai ketika berbicara tentang pernikahan yang dilangsungkan pada rentang usia 20-25 tahun, yakni early marriage (pernikahan dini) dan young age marriage (pernikahan usia muda). Sebagian literatur mengklaim pernikahan usia muda atau young age marriage sebagai penyebab perceraian, sedangkan early marriage dipandang memiliki banyak manfaat, baik untuk membentuk rumah tangga yang bahagia maupun untuk melahirkan anak-anak yang memiliki keunggulan.
Perdebatan tentang masalah ini tidak akan memberi manfaat apa-apa jika kita tidak bersedia memeriksa secara matang dan mendalam faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan pada pernikahan usia muda.
Ini karena jika kita merujuk pada Sprinthall dan Collins (1995) misalnya, cakupan usia pada pernikahan dini adalah 20-27 tahun, sama dengan pernikahan usia muda. Artinya, faktor penting yang menyebabkan pernikahan usia muda rentan konflik bukan terletak pada usia, melainkan aspek-aspek mental yang bersangkut paut dengan proses pembentukan rumah tangga.
Berdasarkan catatan guru saya itu, mari kita periksa apa saja yang menyebabkan sebuah pernikahan mudah mengalami kehancuran. Dua hal yang secara meyakinkan menyebabkan rumah tangga hancur berantakan adalah hidup bersama sebelum menikah (premarital cohabitation) serta melahirkan sebelum menikah (L. K. White, 1990). Dua hal ini sering memicu kekecewaan pernikahan yang berujung perceraian. Maka, Islam telah mengatur hubungan dua insan yang sedang dilanda cinta. Selama belum sah secara syariat, ekspresi cinta harus tetap berada pada koridor syariat, jangan mudah berjanji, jangan tergiur rayuan gombal atas nama cinta yang sebenarnya hanya nafsu belaka. Karena pada dasarnya Allah SWT mencintai orang-orang yang menjaga kesucian dirinya dan menyegerakan sunnahnya Rasul dengan menikah.
Artikel Selanjutnya : Berbohong dengan calon suami
Artikel Selanjutnya : Berbohong dengan calon suami

Komentar
Posting Komentar