CATATAN CINTA #23 : Kisah Mendapat Jodoh Yang "Buta, Tuli, dan Bisu"


KISAH MENDAPAT JODOH YANG "BUTA, TULI, BISU"


Kalau anda ditawari jodoh yang buta, tuli, bisu, kira-kira bagaimana? mau? nolak? pikir-pikir? marah? atau... phone a friend? ask the audience? fifty : fifty? Lho kok kayak kuis sih.... Ya, mungkin karena kita ini manusia biasa banget. manusia millenium baru yang tarikan dunianya kuat banget, kecuali manusia yang jiwanya sudah "terbeli" , husss! siapa yang mau beli jiwa coba?

Bukan... bukan begitu maksudnya. Jiwa yang "terbeli" itu versi saya ibarat seseorang yang keimanannya sudah level tinggi, sehingga keyakinannya begitu kuat pada Allah SWT, tarikan dunia pun tak mengalahkan tarikan keimanannya.

Andai saja masih ada pemuda yang memiliki akhlak seperti Tsabit bin Ibrahim.

Siapa tuh? tetangga kamu, mas? teman? bukan, mas brooo. Tsabit adalah pemuda yang terkenal dengan kisah apelnya.

Tsabit bin ibrahim adalah seorang pemuda yang jujur. suatu hari, ia memakan buah apel yang terbawa arus sungai. saat makan Tsabit teringat pesan Rasulullah SAW bahwa memakan sesuatu yang bukan miliknya tidak diperbolehkan menurut islam hingga kemudian Tsabit berusaha mencari si pemilik apel.

Singkat cerita, apel yang tergigit olehnya membawa takdir Tsabit bertemu dengan seorang pemilik kebun yang ternyata beliau juga seorang alim dan shaleh. Tsabit dengan kejujurannya, menyampaikan peristiwa yang baru saja dialami. Pemilik kebun memberi satu syarat agar dihalalkan apel yang telah dimakannya, yakni Tsabit harus menikahi putri dari pemilik kebun yang buta, tuli, dan bisu bahkan lumpuh.

Karena keshalehan Tsabit, tawaran itu pun disetujui. tanpa diduga! Tsabit menikahi seorang gadis cantik yang "bisu" (maksudnya tidak pernah berbicara selain yang diridhai Allah), "tuli" (tidak pernah mendengar kecuali segala hal yang bermanfaat), "buta" (tidak pernah melihat yang diharamkan Allah) dan "lumpuh" (tidak pernah kakinya menginjak tempat maksiat). Ternyata ia adalah wanita cantik yang shalehah.

Hingga kemudian kisah ini menjadi awal mula lahirnya seorang imam terkemuka hasil pernikahan kedua orang yang shaleh dan shalehah tersebut. Subhanallah....

Saudaraku, kisah di atas entah sudah saya dengar dan baca berapa kali. Namun, ketika membaca atau mendengar kisah tadi, seperti ada getaran jiwa dan hikmah mendalam dihati.

Hikmah pertama adalah kejujuran. Tsabit adalah contoh seorang yang jujur yang begitu mengedepankan kejujuran dan hanya takut kepada Allah SWT. kedua, kesungguhan. Betapa banyak kita sering memilih untuk melaksanakan syariat islam yang gampang-gampang saja, padahal belum nyata usaha sungguh-sungguh kita untuk berjuang menegakkan syariat. ketiga, kepasrahan. pasrah itu bagian puncak dari keimanan hamba, cintanya kepada Allah SWT mengalahkan akal logika untuk hidup berkelimpahan kenikmatan dunia. Pasrah yang dibarengi dengan yakin akan kekuasaan Allah SWT. maka hanya Allah SWT yang membalas hamba yang benar-benar pasrah kepada-Nya.

Seorang Tsabit bukan mustahil menjadi teladan kita. marilah kita meneladani kehidupan beliau. Syukur-syukur dikaruniai jodoh seperti beliau, betul nggak penonton? Aamiin. (taupikh23)

"Wanita itu dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, kemuliaan nasabnya, kecantikannya, dan karena agamanya. Maka nikahilah wanita yang baik agamanya niscaya kamu beruntung." (HR. Muslim)

"Apabila datang kepada kalian seorang laki-laki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia, dan jika tidak, maka akan terjadi fitnah dimuka bumi dan kerusakan yang besar." (HR. Tirmidzi, Ibn Majah, dan Al-Hakim) 

Artikel Selanjutnya : Doa cari jodoh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CATATAN CINTA #23 : Konflik yang Menimbulkan Cerai

CATATAN CINTA #23 : Berbohong Dengan Calon Suami

CATATAN CINTA #23 : Shaleh Inside, Shaleh Outside