CATATAN CINTA #23 : Menagih Janji Menikah
MENAGIH JANJI MENIKAH
Seorang ikhwan berpenampilan alim mendatangi rumah orangtua seorang akhwat yang sudah lama "diincarnya" sejak SMA. Muslimah berjilbab besar, pandai, dan paras wajahnya yang menurut beberapa orang termasuk cantik itu menyebabkan yang ikhwan begitu "berambisi" untuk segera mendatangi rumah orangtuanya, dengan maksud agar tidak kedahuluan orang lain yang dengar-dengar juga sudah mulai curi-curi start untuk meminang sang akhwat.
Menahan rasa tiga tahun bukanlah satu hal yang enteng. mengingat intensitas bertemu, mau tidak mau pasti terjadi karena ikhwan dan akhwat itu dulunya stu kelas. Bahkan sesekali kesempatan, bisa juga bertemu dalam satu kelompok tugas kecil atas permintaan guru mereka.
Walaupun masih terlihat seperti "anak kemarin sore", hari itu sepulang kerja praktik di sebuah perusahaan, ikhwan itu "nekat" datang menemui orangtua sang akhwat. Maksud hati menyampaikan keinginan untuk melamar si akhwat, tapa apa adaya, bibir ikhwan itu tiba-tiba terkunci rapat dan kasak-kusuk kelakuannya jadi tidak stabil. Melihat sosok ikhwan satu kelas yang tiba-tiba datang ke rumah, si akhwat kebingungan, " Nggak ada hujan, nggak ada angin, tiba-tiba ke rumah , ada perlu apa ya, tumben?"
Si ikhwan tak berani menegakkan kepalanya. Ia tertunduk malu, wajahnya memerah, bibirnya masih terkunci rapat, jemarinya tak berhenti bergerak-gerak tak beraturan, dan mendadak ritme detak jantungnya menjadi kencang.
Obrolan pun menjadi terasa hambar, sesekali orangtua yang menemani hanya bertanya dengan pertanyaan standar, " kalau sudah lulus, mau kerja atau kuliah, Mas?" Sontak ikhwan itu menjawab dengan suara sedikit bergetar, "Insya Allah mau kuliah, karena Alhamdulillah, saya dapat beasiswa ke Timur Tengah."
Cep...
Kata-kata itu menjadi kata-kata terakhir dalam pembicaraan sore itu. Si ikhwan pun berpamitan untuk pulang.
Senjata mendatangi langsung dirasa tidak mempan, satu-satunya jalan adalah dengan mengirim Short Message Service alias SMS.
"Ukhti, izinkan saya untuk menyampaikan maksud kedatangan saya tadi sore. Sebenarnya saya ingin mengutarakan keinginan saya untuk bertanya mengenai kondisi ukhti, apakah ukhti sudah punya calon? jika belum, saya bermaksud mengajak ukhti untuk menikah, tapi karena kondisi saya sebentar lagi akan terbang ke timur tengah, apakah ukhti mau menunggu saya hingga tiga tahun lagi?"
Si akhwat menerima SMS, rasanya seperti tersambar petir di siang bolong. Lalu, ia pun memikirkan dengan sungguh-sungguh.
Singkat cerita, si ikhwan beberapa bulan kemudian sudah sampai di belahan bumi lain, Ya, sudah mendarat di timur tengah dan kembali si ikhwan menanyakan hal yang sama. Dengan jawaban yang jelas dan tidak ada " pesan bersayap" ataupun ambigu, akhwat itu membuat keputusan, yaitu menolak dengan baik-baik lamaran sang ikhwan.
Beberapa bulan berlalu, si ikhwan mendapat kabar dari temannya di indonesia bahwa sang akhwat telah menemukan belahan jiwanya dan sudah mengikat janji dengan ikhwan lain.
***
Kisah ini diilhami dari kisah seorang sahabat saya yang beberapa waktu yang lalu mengalami kejadian ini. Memberikan janji untuk menikah dengan tenggat waktu yang lama seringkali menjadikan pihak lain menunggu dan menanti dengan ketidakjelasan status.
Alhamdulillah dalam kisah ini si akhwat tidak pernah berjanji dan meng-iya-kan tawaran ikhwan tadi, karena ia sadar betul bahwa menunggu tiga tahun atau lebih bukanlah waktu singkat, dan selama menunggu, tidak menjamin ia masih mengingat janjinya dan tidak menjamin ia masih menjaga amanahnya.
Rasulullah SAW dengan tegas mengatakan bahwa janji itu adalah utang, dan Allah SWT telah mengingatkan, ".... sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggung-jawabannya." (QS. Al-Isra' (17): 34).
So, jangan mudah berjanji jika janji itu terasa berat untuk kita tepati karena kelak janji yang kita sampaikan pada manusia sejatinya akan di pertanyakan di akhirat nanti apalagi untuk urusan janji menikah. Pikir lagi! Jangan sampai merugikan satu pihak.
Artikel Selanjutnya : Berkahnya menikah dini
Artikel Selanjutnya : Berkahnya menikah dini

Komentar
Posting Komentar