CATATAN CINTA #23 : Kapan waktu yang tepat untuk nikah?
KAPAN WAKTU YANG TEPAT UNTUK NIKAH ?
Beberapa hari ini, saya masih asyik melihat catatan-catatan nikah dini guru saya beberapa tahun yang lalu. Salah satu yang banyak membanjiri surat elektronik guru saya yaitu pertanyaan tentang "Nikah bisa mengganggu kuliah, nggak sih?"
Dunia medis menemukan bahwa menikah mampu membuat kemampuan otak manusia menjadi lebih efektif. Hasilnya, seseorang akan mampu menelaah materi studi dengan lebih baik. Keadaan ini mendorong seseorang untuk memiliki kompetensi yang lebih tinggi. Zaman sekarang, kita tahu bahwa kompetensi jauh lebih berharga dibanding IPK seseorang. Kompetensi lebih menunjukkan kapasitas seseorang, sedang IPK cenderung sebagai gambaran kesesuaian jawaban seseorang dengan ujian semester. It's really different, Bro and Sist.
Catatan ini tentu hanya akan berlaku bila anda nikahnya saat kuliah sebagai pilihan sadar (bukan karena hamil diluar nikah). Saat nikah, Anda sudah benar-benar paham makna kewajiban, tanggung jawab, serta hak pasangan. Selain itu, juga penting orientasi studi anda. Tanpa menikah pun studi anda juga bisa berabe dan tergolong masakom (mahasiswa satu koma) jika anda tidak punya orientasi studi yang OK.
Berkenaan dengan keterkaitan menikah dengan prestasi akademik, Diane E. Papalia dan Sally Wendkos Olds dalam buku Human Development (1995), mereka mencatat bahwa gejolak seksual dapat menyebabkan orang muda usia 19-25 tahun menjadi low achievers atau yang berprestasi rendah. Mereka ini terutama yang memiliki dorongan biologis tinggi namun terhambat dalam memenuhi kebutuhannya.
So, kapan waktu yang tepat untuk menikah? Anda bisa menyimpulkan sendiri.
You are not too young to get married.

Komentar
Posting Komentar